Kelas Perdana
Pagiku indah, akan selalu indah walau tanpa senyum dan dipenuhi debu kendaraan. Kali ini, pagi indah ku berbeda, sungguh berbeda, saat terdapat seorang pria masuk melalui pintu penuh dengan suka cita. Aku tertegun. Siapa gerangan pria ini. Arah kepalaku mengikuti kaki sesosok pria yg baru masuk melewati pintu tadi. Siapa dia?
Kelas perdana akan segera dimulai. Pria ini menarik perhatian ku, aku masih bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan pria ini. Tak pernah ku melihat ada pria se sahaja dia, aku ingin menyapa namun sayang tak berapa lama kemudian dosen masuk dan kelas perdana dimulai.
Sepuluh menit pertama, dia sangat aktraktif, menjawab pernyataan yg dosen berikan. Temanku menggerutu karna tingkah lakunya sudah berlebihan sebagai mahasiswa baru. Aku hanya diam.
Seketika ia mengangkat tangannya, meminta ijin untuk keluar. Aku hanya memandangi tubuhnya dari belakang, ia berlalu dan keluar pintu.
Kelas ramai saat ia pergi, aku masih menunggunya untuk kembali. Di mana dia? Kenapa tak kembali?
Kelas perdana hampir usai, namun aku masih belum melihat rambutnya yg memikat mata melewati pintu kelas. Dimana dia?
Seketika aku melihat rambutnya menyembul di pintu, meminta ijin untuk masuk kembali.
Teman-temanku bertanya karna kebingungan. Aku hanya bisa meliriknya dengan mata ku yg belo ini. Tak berani berucap, hanya menoleh ke barisan belakang.
Aaah tidak. Dia melirik ku, padahal ia sedang menjawab pertanyaan dari teman-temanku. Astaga, dia melirik ku lagi, akan tetapi apa itu hanya perasaanku. Cukup, aku tak tahan. Lirikan mata nya yg ketiga membuktikan kalau dia melirikku. Aku ada di matanya.
Kelas usai, kita semua bergegas keluar. Aku hanya tersenyum malu padanya. Masih malu saat dia melihatku. Aku ingin menyapanya, berkenalan dengan nya. Aku ingin menegurnya sama dengan teman-teman yg lain menegurnya. Tapi aku terlalu takut, kupikir belum saatnya aku tau namanya.
Namun, saat aku ingin melangkah pergi, dia menyapa setengah berteriak. Aku menoleh kebelakang, Ia langsung mengulurkan tangannya untuk dijabat, tanpa berpikir panjang, aku menyambut tangannya. Astaga, aku gemetar.
Lalu dia menyebutkan namanya, namanya hanya satu kata. Namun sangat membekas di pikiranku.

Komentar
Posting Komentar