Mata Coklat
IIndah sekali, batinku.
Mengapa begitu indah untuk di pandang mata?
Hal ini janggal menurutku, biasanya aku tak mudah terpesona akan suatu hal, namun kenapa begitu melihatnya aku langsung jatuh cinta?
Siang yang terik ini tak menghalangiku untuk melihat keindahan mata nya lagi. Aku bergegas masuk minimarket dimana aku menemukannya kemarin. Aku berharap dia datang lagi agar aku bisa melihat ciptaan Tuhan yang indah sekali lagi.
Aku hanya berputar-putar minimarket, menunggunya datang kembali. Sepuluh menit berlalu aku berputar-putar, namun mengapa dia belum datang juga? Aku putus asa. Aku keluar hanya membawa sekotak susu strawberry di genggamanku. Namun saat aku ingin masuk ke mobil, aku melihat tatapan mata yang kukenali. Itu dia.
Tanpa sadar senyum ku mengembang di wajahku. Sekali lagi, aku menikmati keindahan yang tak bisa ku ucapkan dengan kata-kata. Ah aku jatuh cinta dengan mata coklatnya.
Aku hanya bisa memandanginya dari dalam mobil, tak berani melihatnya dari dekat. Sedangkan dia sudah menghilang dari pandangan menyebrangi jalan. Aku hanya melihat rambut hitamnya yang bergoyang dari belakang.
Kopi hitam di pagi hari memang tiada duanya, sama seperti hari-hari biasanya. Hari ini aku kelupaan membawa buku bacaanku, aku hanya memandangi orang-orang disekitarku, melihat ke arah mata mereka. Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri mengapa aku begitu menyukai mata coklat nya sedangkan aku tak mengenalnya, ah klise sekali aku ini, sambil tersenyum aku meneguk kopi hitamku.
Melalui kaca aku melihat diluar kedai kopi kalau hujan semakin deras. Pagi ini memang tidak terduga, pikirku. Tak biasanya Jakarta hujan di pagi hari, aku malas untuk melanjutkan perjalanan pergi ke kampus. Aku hanya diam dalam kebisingan pagi Di dalam kedai.
Aku hanya memandangi kaca kedai yg terkena tetesan air, sambil memikirkan beberapa tugas yang belum juga usai kukerjakan. Kuputuskan untuk mengeluarkan laptopku dan membuka beberapa materi kuliah minggu lalu. Berat sekali materi minggu lalu, pikirku
Tak terasa kopi hitamku habis, padahal aku masih membutuhkan asupan kafein pagi ini. Aku berjalan menuju kasir untuk memesan segelas kopi hitam lainnya dan tambahan roti bakar yg cocok untuk disantap pagi ini.
Waktu berlalu begitu cepat, aku tak menyangka bahwa aku telah menghabiskan tiga jamku di dalam kedai kopi. Waktu sudah menunjukan jam 12.20, sedangkan kelas ku akan dimulai empatpuluh menit lagi. Dengan segera aku menutup laptop ku dan menghabiskan cangkir keempat kopi hitamku.
Aku kebingungan mencari jalan pintas agar bisa cepat sampai di kampus. Konsentrasiku mengendarai mobil pecah, aku melihat layar handphone ku sambil mengemudikan mobil. Aku memacu mobilku secepat mungkin agar bisa sampai kampus tepat waktu. Namun tiba-tiba ada seorang gadis yang lari dihadapan mobilku dan aku terkejut. Bhaam. Aku mendengar suara yg keras dari depan mobilku. Astaga, aku menabrak seorang gadis. Aku panik. Aku tidak tahu apa yg harus kulakukan saat ini. Tak lama kemudian datanglah orang-orang ke depan mobilku untuk melihat gadis yg ku tabrak tadi, namun aku masih belum bergeming dari belakang kemudi.
Seorang bapak-bapak mengetuk kaca jendelaku, aku menengok dan diam. Kulepaskan sabuk pengaman dan memberanikan diri untuk keluar mobil dan melihat keadaan gadis yg baru saja kutabrak. Lututku lemas bukan main saat keluar dari mobil. Aku takut.
Sebelum kuhampiri gadis yg tergeletak didepan mobilku, aku menarik nafas panjang untuk menenangkan diriku, namun tak berhasil.
Sepersekian detik sebelum aku berani melihat keadaan gadis yg kutabrak, kupejamkan mataku. Sungguh, aku takut.
Aku berjalan sambil menutup mata beberapa langkah kedepan dan tiba-tiba aku merasa menginjak sebuah kain. Kubuka mataku. Aku hanya tertegun saat melihat gadis yg tergeletak tak berdaya di depan mobilku adalah si perempuan mata coklat. Jantungku berdegup tak karuan. Ya Tuhan, maafkan aku, aku melukai makhluk ciptaanMu yg sangat ku kagumi.
Suara bising disekitarku rasanya lenyap, yg hanya terdengar ialah suara degup jantungku yg berdebar tak karuan. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang, seketika tepukan seorang bapak menyadarkan ku.
Aku merasa bersalah karna telah melukai ciptaan Tuhan yg tiga hari belakangan ini selalu bertengger di setiap malamku, ku bawa dia ke rumah sakit terdekat dengan bantuan seorang gadis yg bersedia menemani si perempuan mata coklat tersebut.
Sesampainya di rumah sakit, aku masih belum bisa mengedalikan diriku sedangkan gadis yg menolongku tadi sudah pulang dan tak ada yg bisa ku ajak bicara agar bisa mengalihkan pikiranku ini.
Empat puluh menit pun sudah aku menunggu dan akhirnya dokter keluar dari ruang UGD. Tanpa basa-basi aku menanyai kabar si perempuan mata coklat tersebut. Dokter mengatakan kalau dia baik-baik saja, hanya ada cidera di lengan kiri dan lutut kanan nya. Betapa lega nya aku setelah mendengar penjelasan dari dokter.
Namun, sesaat dokter pamit seketika aku sadar bahwa aku harus meminta maaf kepadanya atas perbuatan cerobohku ini.
Hanya sebatang coklat dan sepucuk surat yg bisa ku titipkan kepada perawat agar bisa disampaikan kepadanya. Aku begitu takut jikalau dia marah padaku karna telah membuat dia terluka. Betapa pengecutnya aku ini.
Sesaat aku ingin sekali melihat reaksinya namun aku takut untuk melihatnya. Bahkan kejadian ini sudah membuatku lupa kalau ada kelas yg seharusnya ku hadiri. Aku masih kagum kepadanya, mata nya masih sama indah saat terakhir kali aku pandangi, aku melihat pantulan dikaca jika aku sedang tersenyum.
Ah sudahlah, aku tetap pengecut.
Aku berbalik dan pulang. Meninggalkan sebuah penyesalan dan rasa takut di kamar Anyelir itu.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku tak pernah berjumpa dengannya lagi. Rindu rasanya melihat sepasang mata coklatnya yg meneduhkan pikiranku. Aku terlalu malu untuk mencarinya, namun terlalu penasaran dimana keberadaannya.
Kuputuskan untuk kembali ke minimarket yg biasa ia singgahi. Betapa beruntungnya aku bertemu dengannya disana. Aku masih memandangi bagian belakang tubuhnya, rambutnya kali ini digerai.
Kuberanikan diri ku untuk menghampirinya. Ditanganku sudah ada sebatang coklat yg sama kutinggalkan saat dia sedang terbaring di rumah sakit tempo hari.
Saat ku sodorkan coklat kepadanya, ia menoleh kepadaku. Kita berdua tersenyum.

Komentar
Posting Komentar