Trilogi The Purge

Sekitar jam delapan malam, di HBO ada film The Purge: Election Years.
Pernah denger nama judulnya tapi lupa film tentang apa, lalu gue browsing lha.
Singkat cerita gue nonton tanpa ada gangguan, ya namanya juga tv kabel mana ada iklannya tapi minusnya gabisa kita pause kalo mau rehat.

Gatau post kali ini mau review atau kritik, tapi gue mau menyampaikan film ini trilogi nya.
Dari segi apa ajah yang bisa gue liat di dalam aspek film itu sendiri.



The Purge: Election Years


Sekitar jam delapan tadi yang kayak gue bilang, nonton The Purge: Election Years dan ternyata itu film yang ketiga. Gue pikir akan melewatkan banyak hal karna nonton langsung film yang ketiga. Tapi diawal film secara eksplisit dijelaskan bahwa Pemerintahan Amerika atau yang disebut NFFA ingin memberikan kesempatan untuk membunuh secara legal selama 12 jam, terhitung dari jam tujuh malam sampai tujuh pagi.

Pertama kali ngerti filmnya, gue sangat amat terkejut karna pemerintahan yang memberikan hak untuk semua warga Amerika atau penduduk yang tinggal di Amerika untuk membunuh. Sebenernya kalo kita berfikir secara logis, ada plus dan minusnya seperti yang dikatan Presiden NFFAdi film itu sendiri. Bahwa setiap kali adanya "The Purge Day" ini berlangsung maka ekonomi melonjang naik, kemiskinan menurun dan mengurangi beban Pemerintah itu tersendiri. Tapi di film ini lo akan melihat betapa buasnya para penduduk Amerika yang ingin menyalurkan hasratnya ingin membunuh.

Tapi buat gue, di film ketiga ini gue bisa sangat membaca plot apa yang akan terjadi. Tujuh puluh persen dugaan gue tepat. Entah memang screen play yang sangat mudah dibaca atau memang aspek-aspek screenplay yang gue pelajari di kampus digunakan.
Oh ya jadi di film ini gue sangat memerhatikan artistik dan kamera departemennya. Ini gue lakukan karna di film ini gue menyayangkan di beberapa shot terjadi 'bocor bayangan' dari sang ascam atau D.O.P nya sendiri.



The Purge

Image result for poster the purgeLalu gue rehat sebentar untuk makan. Di film pertamanya, gue melihat sesuatu yang terlihat dibuat-buat. Screen play yang membuat gue sangat menyayangkan karna di durasi film kita bisa langsung menebak apa yang akan terjadi.

Ini kayak mengingatkan gue sama film horor tahun 2016 judulnya The Other Side Of The Door. Lucu ajah bahwa satu scene yang buat film ini jadi panjang durasi nya. Gue lupa-lupa ingat kalo ada perintah jangan buka pintu nya tapi karna dia ngeyel dibuka dah itu pintunya, maka film itu jadi 'hidup'. Coba kalian pikir baik-baik kalo si tokoh ga ngeyel untuk tidak membuka pintu, pasti itu film gak ada. Yak gak sih?
Okay balik lagi...

Untuk film pertama The Purge cukup membuat gue agak terkejut. Dimana adegan si tokoh tidak menyetujui hubungan anaknya dengan seorang laki-laki yang lebih tua dari anaknya. Dan film di mulai saat anak tokoh lainnya melakukan kesalahan.
Gue pikir saat sekelompok manusia bengis datang ialah tetangga mereka. Kenapa gue berfikir seperti itu? Karna gue sudah engeh saat di opening seorang tetangga perempuan yang menyiratkan kebenciannya secara implisit kepada si tokoh utama, jadi gue pikir ya memang pasti dia salah satunya. Pada akhirnya memang dugaan gue bisa dibilang salah-salah-benar.
Salah, ya karna yang nyerang malam hari bukan tetangganya.
Salah, si tetangga nya jadi pahlawan kilat
Benar, si tetangga memang benci sama keluarga tokoh utama.



The Purge: Anarchy

Pada awal durasi gue agak bingung karna siapa tokoh utama pada film The Purge kali ini. Karna terdapat banyak tokoh yang dimunculkan oleh editor yang gue yakin kalo di screen play gak kayak gitu untuk plot nya. Tapi gue sukak sik, membuat penonton bingung dikit.

Di film keduanya, ada tokoh dari sekuel sebelumnya muncul dan kayak membuat kita sadar kalau si tokoh ini ada karna emang dia trauma dan gak mau diinjak-injak lagi.
Agak bingung sih kayak gak ada scene yang bisa gue inget banget di sekuel ini.


Tapi diluar itu gue suka film ini. Jelas gak ada di bioskop Indonesia karna emang HBO tayangin ini dia ngasih peringatan film adegan kekerasannya banyak banget.
Untuk masalah kamera yang gue bilang tadi tentang 'bocor bayangan' ternyata di ketiga filmnya memang ada semua, gue gatau ini memang konsep atau mereka gak sadar tapi gue cukup perhatiin saat camera movement yang cukup intens. Untuk warna di film ini gue suka, mungkin karna mostly gelap jadi yang ada hitam dan kuning yang jadi dominan di ketiga film ini.
Untuk kalian, apakah kalian memerhatikan warna baju si tokoh utama?
Di The Purge dan The Purge: Election Years, tokoh utama memakai baju putih, ini dikarnakan memang si tokoh menolak ada nya "The Purge Day". Bisa dibilang melambangkan mereka suci karna tidak mengikuti perayaan aneh itu.
Untuk di Film The Purge: Anarchy, tokoh utama mengenakan baju abu-abu. Art director dan Director mau menguatkan karakter tokoh utama dia sedang labil dan harus memilih keputusan yang tepat pada saat waktu yang sempit. Director ingin memberikan kesan si tokoh utama ialah pria yang tenang dan tidak gegabah.

Kalau kalian perhatikan, di The Purge Trilogi ini dalam segi screen play memang bergaris besar bahwa sejahat apapun orang diluar sana pasti masih ada yang memiliki hati yang bersih. Gue lihat bahwa di film ini balas budi sangat di tekankan, di semua trilogi nya.

Karakter tokoh utama di setiap film nya pun diberikan kesan 'legowo'. Dia melepaskan apa yang seharusnya menjadi targetnya selama ini. Tiga tokoh protagonis di tiga film ini memberikan antagonis berhak untuk hidup namun dia memberikan 'pelajaran'.




Sebenernya banyak sih, tapi gue mau kalian nonton trilogi nya biar kalian sendiri juga tau.
Gue nonton film ini dalam semalam, anw.
Baiklah selamat menonton.



Komentar

Postingan Populer