Bandara di hari Valentine

Puncak dari cerita ini ialah di Bandara.

Ini bukan cerita tentang Rangga yg pergi ke New York dan berjanji kepada Cinta akan kembali dalam satu purnama. Bukan

Ini juga bukan kisah Adit yg pergi ke Perancis meninggalkan Tita di Jakarta. Bukan.

Ini hanya kisahku, Lia yg mengantar Tio untuk pergi ke Solo di terminal 1A Bandara Soekarno Hatta. Kami berangkat menuju Bandara menaiki bus Damri yg berada di Stasiun Gambir. Aku menjemput Tio. Ia terlihat sedih dan tertutup oleh pileknya. Bahkan aku hampir tertipu olehnya, ia menarik ingusnya karna pilek namun aku berkata "kamu seperti orang menangis" lalu aku mendongakkan kepala dan melihatnya, aku terkejut kalimatku benar adanya, ia sedang meneteskan air matanya, entah yang ke berapa. Tak pikir panjang aku bangun dan langsung memeluknya. Ia menangis dipelukanku, terisak. Lalu ia menarik napasnya. Kita berdua memang sangat butuh pelukan. Aku maupun Tio. Pelukan memang salah satu obat bagi kami, seperti yg satu ini. Aku mencoba menenangkannya, mengusap air matanya. Seketika ia langsung melarangku untuk mengantarnya ke Bandara dan berulang kali mengatakannya. Namun hanya satu kalimat untuk membungkam larangannya, "kamu tau kan kalo aku keras kepala?".
Tak lama taksi online yang kami tunggu tiba. Di taksi aku hanya melihatnya sekilas. Aku menarik tangan kirinya untuk di genggam, namun tak seperti biasanya ia tak begitu menyambutnya. Aku hanya menggamnya. Kami bungkam dalam kemacetan siang di Jakarta.
Kami memilih tempat duduk dibelakang, dekat pintu. Ia menyuruhku duduk dekat jendela. Tak lama bis jalan. Sekali lagi, aku menatap ke arahnya, namun kali ini ia memalingkan wajahnya ke sisi yang lain. Aku tak berkata apapun, dia berhak untuk menenangkan hatinya, yang perlu dilakukan adalah duduk disampingnya saja. Namun ia mengucapkan hal yang biasa ia lakukan kalau hatinyanya tak merasa baik "Aku minta maaf ya, baby" aku hanya menatapnya lalu bertanya apa salahnya. Ia menjawab "Selama perjalanan jangan banyak bertanya" sambil memalingkan wajahnya lagi. Aku sama sekali tak tersinggung atas penolakannya, aku tersenyum. Ia tak bisa menjawab hal-hal itu kalau belum siap, ya seperti itulah Tio. Aku cukup memahaminya. Aku tetap berusaha menghiburnya saat kami melewati rumah temanku, Ratna. Aku menunjuk rumahnya sambil tersenyum lebar, ia hanya memberikan senyuman tipis dan mengangguk. Tak apa aku hanya ingin membuatnya lebih ceria sedikit. Jalan tol menuju Bandara pun ternyata macet, aku hanya melihat kearah keluar, sesekali melihat wajahnya yg menatap kosong bangku didepannya. Lalu aku tersenyum saat aku melihatnya ia ternyata tertidur. Tak lama berselang ia bangun, lalu menanyakan aku ingin tidur atau tidak. Kujawab aku memang mengantuk tapi tidak bisa tidur, lalu aku menyelipkan tangan kanan ku ke dalam ketiak kirinya agar bisa menjadikan tangan kirinya menjadi guling dan bahunya menjadi bantalku. Aku senang dan nyaman. 
Sekitar lima menit ku menyandar hp miliknya berbunyi, Bapaknya menanyakan dimana Tio sekarang. Aku tak bertanya dari siapa, tapi aku dapat mendengar sedikit percakapan mereka di telpon.
Mungkin setelah beberapa saat keheningan tadi, suasana hatinya sudah lumayan membaik. Ia membuka percakapan dengan menceritakan sariawan yang sedang ia derita. Ia sedang tidak begitu sehat memang, tapi aku bilang padanya untuk tetap pergi ke Solo menemui neneknya. Aku mengelus punggungnya agar ia lebih tenang. 
Bis Damri yang kami naiki menuju terminal 3 lebih dahulu, lalu baru lah ke terminal 1. Aku menyuruhnya untuk bangun karna ini terminalnya, ia seperti terlihat kebingungan dan balik bertanya kepadaku untuk memastikan. 

Kami turun dari bis.
Suasana masih sangat dingin diantara kami.
Tio bertanya kepada petugas perihal tiket elektronik miliknya. Aku hanya melihatnya dari jauh. 
Aku menyuruhnya untuk langsung masuk, ia terdiam sesaat. 
Kami hanya berpengangan tangan, pegang tangan yang sangat kaku seperti di taksi online tadi. Aku menatapnya lekat-lekat sedangkan ia menatap jalanan. Kurasa ia tak tega melihat wajahku.
Tak ada pelukan atau ciuman dikening  seperti yang ada di film-film. Aku hanya melihat punggungnya yg lesu menjauh. Aku menunggunya hingga masuk. Kupikir ia terlalu berat untuk melambaikan tangan namun sebelum masuk ia melakukannya. Lima lambaian, lalu ia masuk. Aku tersenyum dan pergi. 


Aku kembali membeli tiker bis menuju Stasiun Gambir lagi. Aku menunggu bis datang, di layar pemberitahuan estimasi bis datang 13menit lagi, kupikir hanya tipuan ternyata benar adanya. Aku naik dan kembali duduk diposisi semula aku berangkat. Tak lama bis jalan memutari terminal lainnya, hujan turun dikit demi sedikit dan tanpa sadar mataku basah. Kupikir apa yang perlu kutangisi. Hari ini aku tidak punya sesal apapun atas yang kuperbuat. Lalu aku hanya teringat Tio yang menangis beberapa kali sebelum ia pergi. Memang ia pernah mengatakan kalau ia tidak begitu menyukai Bandara ataupun Stasiun, ia bilang tak suka perpisahan. Tapi kupikir ia hanya sebentar pergi ke Solo untuk mengunjungi neneknya mengapa mesti sedih. Tiba-tiba suara handpone memecahkan keheningan bis, ini dari Tio. Aku tau kalau dia tidak punya pulsa ataupun paket data, ia hanya miss call berharap di telpon kembali.


Sesegera mungkin kutelpon kembali, namun ia pun menelpon ku lagi, pada akhirnya jaringan kami sama sama sibuk. Kutelpon terus lalu ia mengangkatnya. Aku mendengar suaranya dari ujung telpon sudah sangat lebih baik dari sebelumnya. Ia langsung berterima kasih kepadaku karena sudah mengantarkannya ke Bandara, aku hanya tersenyum dan menjawab dengan senang hati. Ia bertanya aku dimana dan akupun bertanya sebaliknya. Percakapan yang singkat namun menyenangkan dan menenangkan. 


Kumatikan telponnya dengan rasa lega sekaligus senang mendengar suaranya. Sebenarnya yang lebih menenangkan bahawa ia menelponku sebelum pesawat berangkat, aku paham betul bahwa ia sedang sedih dan bingung tapi ia tetap memutuskan untuk menelpon ku disela-sela menunggu pesawat. Aku hanya berpesan, sesampainya di Solo setidaknya miss call agar aku tau kalau dia sudah sampai. Aku melihat ke arah jendela bis yang sudah dibasahi air, aku sedang berada di terminal 3 untuk menjemput penumpang lainnya.


Dan aku baru tersadar bahwa ini hari Valentine setelah kondektur bis meminta karcisku. Ya walaupun aku tak merayakannya setidaknya hari ini aku memperlihatkan kasih sayangku kepada Tio. Aku selalu menyimpan hal-hal seperti ini, mungkin yang satu ini akan ku pasang di dinding kamar. Sebagai pengingat bahwa Tio sedih untuk pergi meninggalkanku di Jakarta.





Komentar

Postingan Populer