Pengaruh Pola Pikir

Pada akhir tahun 2017 dan awal 2018 ini banyak film yang mulai mempengaruhi gue pribadi dalam cara bertutur saat berkarya membuat sebuah film ataupun mengkajinya. Membentuk bagaimana kita menyikapi sebuah film yang 'bagus' atau 'tidak'. Jika kebanyakan orang atau orang awam hanya tau gaya penceritaan tiga babak atau yang biasa disebut Hollywood Klasik, bahwa diseberang gaya peceritaan itu disebut Russian Art Sinema yang mencakup film-film yang eksperimental. Hollywood klasik yang memiliki urutan cerita dari opening, middle, lalu ending, namun sebaliknya dengan Russian Art Sinema itu sendiri.

Tapi pada postingan kali ini gue tidak akan membahas lebih detail tentang sejarah film dunia atau dasar-dasar pembuatan film. Disini gue ingin memberikan list film yang cukup membuat gue menjadi lebih terbuka dan kritis setelah menonton film.




Like Someone In Love - Abbas Kiarostami



Pertama kali film yang membuat gue jatuh cinta akan semua aspek yang ada di frame. Dari segi penulisan, penceritaan, tata kamera, tata artistik bahkan suara membuat gue sangat amat jatuh cinta. Abbas dengan gaya nya yang seperti biasa membuat kita terpukau dan takjub dengan rasa yang diberikan pada film ini. Di lima menit awal yang selalu menjadi patokan bagus atau tidaknya film nampaknya sangat mudah dilakukan Abbas pada film ini. Kita akan terus mencari, menunggu, berasumsi, bahkan berfikir hanya dengan satu shot long take yang indah. Di film ini gue diperlihatkan realitas yang sangat amat realitas dikehidupan nyata. Rasa ketidak berdayanya seseorang akan kita rasakan di lima belas menit awal, gue yakin banget kalian yang nonton pasti nangis. Dan juga ending film yang menurut gue kali pertama yang beda yang enggak seperti biasanya. Maka gue sangat amat memuja film ini.



Still Walking - Hirokazu Kore-eda


Sepanjang film gue rasa kalian gak akan sadar, tapi setelah film ini berakhir kalian baru menyadari bahwa semesta dirumah tersebut ialah Ibu. Setiap aspek sekecil apapun itu semua 'dipegang' oleh Ibu. Sejujurnya gue perempuan yang sarkas, terus nontonin Ibu nya ngomong dan gesturnya membuat gue tertawa geli. Kalo ditanya kenapa alasannya mungkin gue akan menjawab kalo ternyata menyenangkan nge-sarakasin orang walaupun mereka akan sakit hati pada akhirnya. Terus yang gue suka tuh dari film ini bahwa semua karakter beserta dialog mereka tuh terasa deket banget sama keseharian kita. 



Jeanne Dielman, 23, Quai du Commerce, 1080 Bruxelles - Chantal Akerman



Sejujur-jujurnya gue nyelesain film ini dalam waktu 3 hari. Betapa film ini hampir menyetarakan dengan real time. Ngeliat shot-shot statis yang gitu-gitu ajah, ngeliatin dia ngelakuin sesuatu dari awal sampe akhir membuat kita layaknya lagi ngeliatin CCTV. Lucunya gue masih mau liat dan nyambung-nyambung sampe tiga hari buat nyelesain film ini.

Komentar

Postingan Populer