Tongseng Terakhir Kita
Aku masih teringat kali pertama aku memberitahu dan mengajak mu makan tongseng yang berada di ujung jalan Pasuruan. Aku bilang bahwa ini akan menjadi tempat tongseng rahasia milik kita berdua, namun ternyata semua orang telah tau terlebih dahulu dari pada kami. Kami tertawa, tergelitik.
Siang ini aku tanpa memberitahumu datang ke kamar mu, seperti biasanya. Aku menemukanmu sedang duduk dan menonton youtube di ponsel. Tanpa dipersilahkan aku duduk di bawah, bagiku kasur bukan lagi tempat yang kau persilahkan, aku teringat bahwa saat kau bilang kasur adalah bagian privasi milikmu. Sudah lama aku tidak dipersilahkan tidur bahkan duduk di kasur mu, singgahsana mu di dalam kamar. Betapa sadarnya aku tidak disambut dengan baik oleh mu akhir-akhir ini. Semakin hari semakin resah. Sosokmu memang jelas terlihat tapi bayangamu saja tidak bisa ku raih apalagi tanganmu yg lembut dan gagah itu. Tangan yang selalu aku kagumi dari bagian tubuhmu.
Sesungguhnya aku hanya basa-basi mengajakmu makan tongseng, namun tidak biasanya kamu langsung meng-iyakan ajakanku. Kau bergegas, memakai baju dengan sigap. Lalu celana pendek menjadi pilihan pertamamu, aku bingung. Aku melihat biasanya kamu dengan celana hitam panjangmu, kamu bilang saat pakai celana atau pakaian hitam terlihat lebih kurus. Tak lama kamu melepas celana pendek jeans mu dan mengganti celana panjang hitam. Aku semakin bingung, apa ada yg salah dengan kalimatku? Mengapa kamu begitu menuruti kalimatku yang basa-basi ini?
Lagi-lagi di mobil perjalanan menuju tongseng diam dan sunyi, tenggelam dalam kebisingan suara ac mobil. Kali ini aku bahkan tidak memandangmu seperti dulu, aku bahkan melihat keluar jendela dan menarik nafas panjang. Bahkan diriku di kala itu butuh ketenangan sesaat, tapi aku masih nyaman dengan ada dirimu di samping. Tidak ada sepatah kata, tak apa, aku memang cuman butuh fisikmu disampingku, cukup yang sangat amat.
Sesampainya kamu membeli rokok di warung, sedangkan aku memesan makanan yang biasanya aku pesan, tongseng kambing. Hari ini pula kamu tidak biasanya, memesan tongseng sapi. Entah alasan karna uangmu tak cukup atau memang kau lagi tak menginginkannya. Lagi-lagi aku merasa ganjil, patutkah?
Kendaraan dibelakangku lalu lalang, yg kudengar hanya basa-basi pertanyaan yang keluar dari mulutmu. Aku bingung, aku nyaman berada disampingmu tapi aku tidak nyaman dengan sikapmu membeku di sebrang meja sana. Kalut, aku tatap lekat-lekat matamu, namun sayangnya matamu mencari sesuatu yang dapat bisa dijadikan pengalihan. Iya aku tau kamu tidak lagi disana, sayang.
Satu batang rokok setelah makan memang wajar, namun kenapa menjadi dua? Ada apa denganmu? Gelisahkah dirimu?
Aku memberanikan diri, menatap lekat-lekat matamu yang terkena bias matahari dari kacamata barumu. Dengan ragu dan suara yang menurutku pelan, aku memberanikan diri.
"Kamu sedang bosan?"
"Bosan karna?"
"Aku....."
Tidak butuh waktu lama kamu menganggukan kepala dan mengiyakan.
Akhirnya, kamu jujur. Betapa senangnya aku, sekaligus sakit yang menyusul di dada.
"Sama aku juga...."
Hening kembali muncul, namun kegelisahan makin menjadi. Tak lama kamu akhirnya berbicara kembali dengan nada ragu-ragu.
"Memangnya kamu gak bosen gini-gini aja?"
Aku tau maksud dari kalimatmu, entah mengapa lebih menyenangkan jika kamu sendiri yg memberitahukannya kepadaku.
"Iya yang gini-gini ajh"
Kamu berhenti sejenak, memandang jalan dibelakangku untuk mengumpulkan keberanian.
"Aku capek....."
"Sama aku juga. Aku capek ngeliat kamu kayak gini terus"
Knalpot motor menenggelamkan nada suara ku yang mulai terdengar kesal. Kamu pun kembali diam, diujung meja sana. Apa yang sedang kau pikirkan? Bolehkan aku mendengarnya barang se-paraghraf?
Aku memesan taksi online, titik penjemputan lumayan jauh dari tempat tongseng dan akhirnya aku memutuskan untuk jalan menuju lampu merah. Saat ingin memasuki mobil, seseorang memanggil dan menyapa mu. Ah ya aku ingat, itu tempat toko kaset yang sering kamu ceritakan belakangan ini, bukan?
Biasanya kamu selalu mengenalkan aku kepada setiap orang kenalanmu, namun kenapa kali ini tidak? Apakah aku sudah tidak lagi penting bagimu? Rasanya sakit saat memikirkan hal-hal semacam itu.
Sudah setengah perjalanan, aku mencoba menelpon temanku untuk mengucapkan atas sidangnya yang baru ia selesaikan. Engkau hanya terdiam, tanpa bertanya dan memandang sedikitpun ke arahku.
Sesampainya di depan kostan mu, aku ijin untuk ke ATM untuk mengambil uang guna bisa mengganti uang yang tadi kamu bayarkan untuk seporsi tongseng ku.
Kubuka pintu kamarmu tanpa mengetuk, lagi-lagi aku menemukan mu sedang duduk dan terpaku dengan ponselmu. Aku diam dan bingung harus bagaimana. Aku duduk dibawah, tentunya. Bertanya apa yang akan kamu lakukan selepas ini, kamu bilang akan pergi kerumah salah satu temanmu di lebak bulus. Karna mendengar kamu ingin pergi, aku merasa tahu diri, artinya aku harus bergegas pergi. Namun hati kecil ini makin ganas ingin mendengar apa yang ada dipikiranmu, maaf sayang kamu tidak pandai menyembunyikan hal semacam itu atau memang aku yang teramat tau tentangmu?
"Kamu gak ada yang mau diomongin sama aku?"
Terlihat gestur dan ekspresi yang cukup signifikan berubah setelah mendengar kalimatku barusan.
Berulang kali kubertanya dengan nada yang semakin lama semakin lembut untuk didengar. Mencoba meyakinkan dirimu bahwa ini saat yang tepat untuk kamu bisa bercerita kepadaku. Hey! aku kenal dirimu. Sudah berapa lama aku memberimu waktu agar bisa nyaman bercerita perihal apa yang kau gundahkan.
Ada apa dengan ku?
Ada apa dengan mu?
Ada apa dengan kita?
Banyak hal dan peristiwa yang kusesali tidak bisa melewatinya denganmu, sesungguhnya aku tak paham bagaimana cara kerja semesta untuk kita berdua. Kamu tau betapa ku mencitaimu dan menyayangimu? Tanpa kuucap pun aku yakin kamu bisa merasakan betapa tulusnya diriku. Dan saat mendengar rasa-mu sudah mulai memudar terhadapku, hanya tetesan air mata yg bisa langsung menjawab kalimat barusan.
Kita berdua tau, betapa siapnya kita akan momen ini namun tetap menyakitkan dan mungkin lebih.
Aku tak tahu harus bagaimana agar bisa menenangkan hatimu sekarang, aku hanya bisa mengelus punggungmu yang sedang terguncang karna tangisan dan rambutmu yang sedang tergerai menutupi wajah yg memerah.
Aku?
Tak perlu repot-repot untuk menenangkan ku, cukup hanya menangis dan menjerit nampaknya sudah cukup bagiku.
Tak usah repot-repot kubilang. Tolong jangan sentuh aku!
Bahkan aku mulai bertanya kepadamu, bahkan diriku. Jadi apa yang sekarang kita tangisi?
Apa? Coba jawab aku sekarang! Apa?
Siang ini aku tanpa memberitahumu datang ke kamar mu, seperti biasanya. Aku menemukanmu sedang duduk dan menonton youtube di ponsel. Tanpa dipersilahkan aku duduk di bawah, bagiku kasur bukan lagi tempat yang kau persilahkan, aku teringat bahwa saat kau bilang kasur adalah bagian privasi milikmu. Sudah lama aku tidak dipersilahkan tidur bahkan duduk di kasur mu, singgahsana mu di dalam kamar. Betapa sadarnya aku tidak disambut dengan baik oleh mu akhir-akhir ini. Semakin hari semakin resah. Sosokmu memang jelas terlihat tapi bayangamu saja tidak bisa ku raih apalagi tanganmu yg lembut dan gagah itu. Tangan yang selalu aku kagumi dari bagian tubuhmu.
Sesungguhnya aku hanya basa-basi mengajakmu makan tongseng, namun tidak biasanya kamu langsung meng-iyakan ajakanku. Kau bergegas, memakai baju dengan sigap. Lalu celana pendek menjadi pilihan pertamamu, aku bingung. Aku melihat biasanya kamu dengan celana hitam panjangmu, kamu bilang saat pakai celana atau pakaian hitam terlihat lebih kurus. Tak lama kamu melepas celana pendek jeans mu dan mengganti celana panjang hitam. Aku semakin bingung, apa ada yg salah dengan kalimatku? Mengapa kamu begitu menuruti kalimatku yang basa-basi ini?
Lagi-lagi di mobil perjalanan menuju tongseng diam dan sunyi, tenggelam dalam kebisingan suara ac mobil. Kali ini aku bahkan tidak memandangmu seperti dulu, aku bahkan melihat keluar jendela dan menarik nafas panjang. Bahkan diriku di kala itu butuh ketenangan sesaat, tapi aku masih nyaman dengan ada dirimu di samping. Tidak ada sepatah kata, tak apa, aku memang cuman butuh fisikmu disampingku, cukup yang sangat amat.
Sesampainya kamu membeli rokok di warung, sedangkan aku memesan makanan yang biasanya aku pesan, tongseng kambing. Hari ini pula kamu tidak biasanya, memesan tongseng sapi. Entah alasan karna uangmu tak cukup atau memang kau lagi tak menginginkannya. Lagi-lagi aku merasa ganjil, patutkah?
Kendaraan dibelakangku lalu lalang, yg kudengar hanya basa-basi pertanyaan yang keluar dari mulutmu. Aku bingung, aku nyaman berada disampingmu tapi aku tidak nyaman dengan sikapmu membeku di sebrang meja sana. Kalut, aku tatap lekat-lekat matamu, namun sayangnya matamu mencari sesuatu yang dapat bisa dijadikan pengalihan. Iya aku tau kamu tidak lagi disana, sayang.
Satu batang rokok setelah makan memang wajar, namun kenapa menjadi dua? Ada apa denganmu? Gelisahkah dirimu?
Aku memberanikan diri, menatap lekat-lekat matamu yang terkena bias matahari dari kacamata barumu. Dengan ragu dan suara yang menurutku pelan, aku memberanikan diri.
"Kamu sedang bosan?"
"Bosan karna?"
"Aku....."
Tidak butuh waktu lama kamu menganggukan kepala dan mengiyakan.
Akhirnya, kamu jujur. Betapa senangnya aku, sekaligus sakit yang menyusul di dada.
"Sama aku juga...."
Hening kembali muncul, namun kegelisahan makin menjadi. Tak lama kamu akhirnya berbicara kembali dengan nada ragu-ragu.
"Memangnya kamu gak bosen gini-gini aja?"
Aku tau maksud dari kalimatmu, entah mengapa lebih menyenangkan jika kamu sendiri yg memberitahukannya kepadaku.
"Iya yang gini-gini ajh"
Kamu berhenti sejenak, memandang jalan dibelakangku untuk mengumpulkan keberanian.
"Aku capek....."
"Sama aku juga. Aku capek ngeliat kamu kayak gini terus"
Knalpot motor menenggelamkan nada suara ku yang mulai terdengar kesal. Kamu pun kembali diam, diujung meja sana. Apa yang sedang kau pikirkan? Bolehkan aku mendengarnya barang se-paraghraf?
Aku memesan taksi online, titik penjemputan lumayan jauh dari tempat tongseng dan akhirnya aku memutuskan untuk jalan menuju lampu merah. Saat ingin memasuki mobil, seseorang memanggil dan menyapa mu. Ah ya aku ingat, itu tempat toko kaset yang sering kamu ceritakan belakangan ini, bukan?
Biasanya kamu selalu mengenalkan aku kepada setiap orang kenalanmu, namun kenapa kali ini tidak? Apakah aku sudah tidak lagi penting bagimu? Rasanya sakit saat memikirkan hal-hal semacam itu.
Sudah setengah perjalanan, aku mencoba menelpon temanku untuk mengucapkan atas sidangnya yang baru ia selesaikan. Engkau hanya terdiam, tanpa bertanya dan memandang sedikitpun ke arahku.
Sesampainya di depan kostan mu, aku ijin untuk ke ATM untuk mengambil uang guna bisa mengganti uang yang tadi kamu bayarkan untuk seporsi tongseng ku.
Kubuka pintu kamarmu tanpa mengetuk, lagi-lagi aku menemukan mu sedang duduk dan terpaku dengan ponselmu. Aku diam dan bingung harus bagaimana. Aku duduk dibawah, tentunya. Bertanya apa yang akan kamu lakukan selepas ini, kamu bilang akan pergi kerumah salah satu temanmu di lebak bulus. Karna mendengar kamu ingin pergi, aku merasa tahu diri, artinya aku harus bergegas pergi. Namun hati kecil ini makin ganas ingin mendengar apa yang ada dipikiranmu, maaf sayang kamu tidak pandai menyembunyikan hal semacam itu atau memang aku yang teramat tau tentangmu?
"Kamu gak ada yang mau diomongin sama aku?"
Terlihat gestur dan ekspresi yang cukup signifikan berubah setelah mendengar kalimatku barusan.
Berulang kali kubertanya dengan nada yang semakin lama semakin lembut untuk didengar. Mencoba meyakinkan dirimu bahwa ini saat yang tepat untuk kamu bisa bercerita kepadaku. Hey! aku kenal dirimu. Sudah berapa lama aku memberimu waktu agar bisa nyaman bercerita perihal apa yang kau gundahkan.
Ada apa dengan ku?
Ada apa dengan mu?
Ada apa dengan kita?
Banyak hal dan peristiwa yang kusesali tidak bisa melewatinya denganmu, sesungguhnya aku tak paham bagaimana cara kerja semesta untuk kita berdua. Kamu tau betapa ku mencitaimu dan menyayangimu? Tanpa kuucap pun aku yakin kamu bisa merasakan betapa tulusnya diriku. Dan saat mendengar rasa-mu sudah mulai memudar terhadapku, hanya tetesan air mata yg bisa langsung menjawab kalimat barusan.
Kita berdua tau, betapa siapnya kita akan momen ini namun tetap menyakitkan dan mungkin lebih.
Aku tak tahu harus bagaimana agar bisa menenangkan hatimu sekarang, aku hanya bisa mengelus punggungmu yang sedang terguncang karna tangisan dan rambutmu yang sedang tergerai menutupi wajah yg memerah.
Aku?
Tak perlu repot-repot untuk menenangkan ku, cukup hanya menangis dan menjerit nampaknya sudah cukup bagiku.
Tak usah repot-repot kubilang. Tolong jangan sentuh aku!
Bahkan aku mulai bertanya kepadamu, bahkan diriku. Jadi apa yang sekarang kita tangisi?
Apa? Coba jawab aku sekarang! Apa?
Jawab aku, tolong.
Apakah keduanya?
Apakah keduanya yang sedang kita tangisi bersama?
Bahwa tau di masa depan nanti aku dan kamu sudah tak lagi bisa bersama untuk membuat kenangan-kenangan lainnya.
Tapi bantulha aku barang sedikit.
Habiskan tenagamu agar bisa berlari kencang menuju cita-citamu dan ambisimu yang sedang besar-besarnya.
Karena tau kah dirimu apa rasanya jadi aku yang menjadi penghalang kamu dan cita-citamu, rasa bersalah yang teramat besar.
Kamu datang jauh dari pulau seberang, memegang nama keluarga untuk kebaikan, doa ibu-bapak mu yang selalu menyertai.
Dan siapa aku di hidupmu? Berani-beraninya aku melambatkan laju mu, agar kita bisa berjalan beriringan. Kamu memelankan kecepatan agar bisa selalu sejalan.
Sungguh kupikir aku memang benar-benar seseorang yang sangat menghalangimu, seperti yang dikatakan beberapa temanmu tentangku. Iya, aku tau.
Maka, dengan berbesar hati dan berulang kali aku mengatakan ini kepadamu
"Tinggalkan aku ditempat jika jalanku terlalu lambat, kamu boleh lari sekarang sekencang-kencangnya. Aku tak akan menghalangimu"
Aku yakinkan dirimu bahwa kalimatku sebenarnya adalah pilihan paling logis untuk kita. Walaupun butuh waktu cukup lama dan kesabaran yang amat besar. Tapi ingat tak sebesar cintaku padamu oh sayang.
Setelah berjam-jam kita menangis dan berhenti sejenak untuk bercerita dan berbagi canda tawa kembali, untuk menenagkan mu agar bisa mengambil keputusan yg paling logis. Kamu yg akhirnya mengakui bahwa sekarang ego-mu lha yg harus dimenangkan. Aku bersyukur kamu tau apa yg kamu mau. Mengambil keputusan tanpa tekanan dan konsekuensinya, karna bagiku tak apa sesekali kamu memenangkan ego-mu. Dan lagi bukan aku yang meminta karna aku tidak merasa punya hal yang menggangu ku selama ini, itu kamu. Kamu yang pantas dan berhak untuk memutuskan harus bagaimana. Kamu berhak, sangat.
Seharusnya aku selalu ingat bahwa semesta bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti. Bahwa aku dan kamu menorehkan banyak sekali pengalaman, pengalaman hidup. Kita sama-sama belajar banyak hal. Tapi tolong, maafkan aku selama ini sudah terlalu mencintaimu, tanpa sadar membuatmu menjadi apa yang kuinginkan. Tolong maafkan aku, aku mohon. Maafkan aku yah, sayang.
Tanpa sadar empat jam sudah kita lewati dengan bertutur kata, banyak menangis, sedikit tertawa, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dan mata kita telah lelah, kantung mata dan kelopak mata sudah membesar, sudah banyak mengeluarkan air mata. Namun nampaknya kita berdua masih belum bisa berhenti, sesenggukan sana-sini.
Selama kita bersama, aku tak pernah meminta atau menyuruhmu untuk menjalankan syariat agama, karna kupikir kita sudah dewasa, sudah tau apa yang baik untuk kita. Namun kali pertama aku minta dan mengingatkan padamu bahwa kamu sudah terlampau jauh dari Tuhan, coba lha sesekali menengok ke arahnya, berjalan pelan lagi ke arahnya, mungkin kamu mendapat ketenangan dan ke ridho-an darinya. Kamu tau aku bukan lha wanita yang cukup baik tapi kamu juga tau aku tidak seburuk itu, bukan?
Aku minta tolong, kembali lha sejenak ke pencipta-mu. Masalah hidupmu tidak seberapa kalau kamu mengadu kepadanya, kamu tau akan hal itu.
Di dunia yang fana ini, aku berharap kamu bisa menjadi sesosok pria yang selalu manis selalu. Kamu tau kan, dimataku kamu selalu manis. Selalu menjadi sesosok pria yang baik dan ramah. Tolong saat kamu berlari jangan sampai tersesat yah! Kalau kamu tersesat coba lha kembali dengan jalan yang sama, agar tidak kehilangan arah.
Hari ini tongseng terakhir kita makan berdua, menyedihkan bagiku.
Tapi terima kasih sudah memenuhi permintaanku.
Kamu tau kan kalo aku sayang kamu?


Komentar
Posting Komentar