"Si Pertemuan"

Aneh tapi inilah sedang dirasa, teralihkan secara halus olehnya. 
Mari kita panggil dia manusia "si pertemuan". 

Entah ini dari mana, yang jelas aku sudah memulai menulis pertemuan olehnya di kali kelima. 











Lalu dipertemuan selanjutnya aku mulai memberi judul. 










Kala itu nampaknya menyenangkan, layaknya menulis diary saat sedang jatuh cinta. Begitulah kira-kira yg sedang kurasa saat bersamanya. 
Tapi percayalah, semuanya tidak berjalan dengan senyum manis saja, di pertemuan berikutnya aku sudah mulai lelah dengan sikapnya yang tidak tegas. 











Tapi apalah dayaku sebagai perempuan, si perempuan besar gengsi. Mengucap rindu pun segan padanya. Nampaknya pantang sekali dilidahku untuk mengucapkannya lebih dulu ketimbang dirinya. Yang bisa kulakukan adalah mengulur waktu bersamanya, anxiety datang tiba-tiba menyerangku tanpa ampun. Takut berpisah, kehilangan dirinya, tidak bisa mencium bau pakaiannya.













Sampai aku tak sadar betapa aku nyaman dengannya, saat itu kutak perduli apa statusku dengannya. Yang kupedulikan, aku hanya ini bersamanya. 













Entah mengapa aku merasa perasaan ini bukan hal yang mudah diungkapkan. Bukan lagi sekedar "dia tampan, aku sukak", bukan. Kupikir ini adalah hal yang orang dewasa bicarakan, bahwa kenyamanan adalah hal yg sungguh penting. Merasa aman bersamanya, merasa nyaman dengannya walau dalam diam dan pekiknya hiruk pikuk jakarta. 

Namun kembali lagi, nampaknya kita berdua masih belum menentukan hal yang tak pasti. Kamu makin menyihirku sedangkan aku hanya bisa tertegun melihat sihirmu.


Merasa gila, karna tak tahu harus berbuat apa. Segala isyarat sudah kuberikan nampaknya dia pura-pura bodo atau...tidak membacanya? 

Entah sudah berapa lama, yang jelas mulai dari aku perduli dan merasa ingin mendapatkannya hingga aku tak perduli dengan keberadaannya karna kesal rasanya. 
Tapi lagi-lagi aku salah, nyatanya tanpa sadar ku sudah tida bisa terbiasa tanpa dirinya. Dia sudah menjadi bagian dari hari-hariku. Nampak susah sekarang perasaanku dan situasinya. 




Sampai aku tahu sebenernya juga kau merindu.













Lalu ada saat dimana kita sama-sama melewati hari yang sungguh tidak biasa. Kupikir kamu akan langsung bercerita tanpa aku tanya, ya boleh saja kan aku berpikir kita sudah sedekat itu dan sudah sama-sama nyaman untuk bercerita satu sama lain?

Memang apapun itu jika berhubungan denganmu nampaknya harus memakan waktu yg cukup lama. Kamu se-tertutup itu yah orangnya?













Nampaknya kamu masih saja ragu, tidak seluluasa itu bertanya atau meminta sesuatu kepadaku. Kalimat basa-basi mu lama-lama membosankan, ya mungkin karna aku bukan tipe wanita yang suka basa-basi. Kalau rindu dan ingin bertemu yaaa bilang saja, siapa juga yang akan menolakmu? hahaha














Dan bukan hanya kamu sudah menjadi bagian hidupku tanpa kusadari, tanpa sadar pula kamu juga sudah memupuk kebiasaan. Entah bermula dari mana, namun yang kutahu kamu sudah memupuk kebiasaan. Hebat sekali yah kamu!













Lalu tiba saatnya aku melihat sisi mu yang selama ini kamu sembunyikan sekian lama. Kali ini aku melihat sesosok pria dewasa yang dengan tegas dan berani bicara kepada seorang ayah dari anak gadis. Entah merasa bangga dan terharu, baru kali pertama ada pria yang melakukannya itu untukku. 

Tapi dilain sisi, selama in dari aku dan kamu akhirnya yang mengatakan 'suka' duluan ialah kamu. Ada rasa menang didalam dada karna ego ku sebagai wanita tidak sama sekali jatuh. 

Susah sekali yah nampaknya bisa mendengar kalimat yang kita semua sudah tau jawabannya keluar dari mulutmu, dengan penuh kesadaran tentunya. 














Namun setelah aku mendengar pernyataan darimu yang ada hanya bingung dan gelisah yang tampak diraut wajahmu. Lalu dengan wajah pucat pasi seusai sholat maghrib, kamu bertanya dengan polos "terus gimana?". Aku hanya tertawa, tak tahu harus jawab apa selain ikuti kata hati.





Tanpa berharap dan meminta apapun, tiba-tiba kamu memberikan bekal. 
"Ini sesajen buat disana", katamu dengan senyum merona. 
Ya tentu saja aku dibuat merona tak karuan olehnya. Yang bisa kuucap hanya terima kasih sambil berjingkrak-jingkrak pelan. 







































Seusai beban satu tahunku selesai, tentu saja kamu orang pertama yang kuberitahu dengan tulisan kapital karna terlalu bersemangat. Entah ada angin apa, aku mengajakmu makan dan tanpa ada alibi bertele-tele kamu meng-iyakannya. Padahal kala itu hari senin, hari dimana kamu selalu sibuk dengan jobreq dari klien tapi kamu menyempatkan untuk bisa makan siang denganku walaupun sudah telat. 

Nampaknya perayaan ini tidak boleh dilewatkan, tongseng kambing adalah sebuah jawaban! 
Kali pertama makan disana setelah sekian lama, membuat dan memupuk hal baru bukanlha hal yang mudah. Perbincangan dibawah pohon nampaknya sudah hampir habis atau sengaja dihabiskan agar kamu bisa kembali ke kantor. 

Sekali lagi kuingatkan, aku adalah wanita yang bergengsi tinggi. Pantang sekali bagiku untuk membicarakan hal-hal dapat membuat malu diriku sebagai wanita. 
Saat bergegas ingin pulang dengan ojek online, kamu menawarkan diri untuk mengantarku, tidak main-main sampai depan rumah. Jarak dari tongseng ke kantor mu lebih dekat daripada ke rumahku tapi kamu sangat tidak keberatan. 
Sepanjang jalan kamu banyak bicara, namun saat hampir sampai dirumahku tiba-tiba kamu diam. Kudengar kamu menarik nafas panjang dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Nampaknya otakmu sedang bekerja keras untuk merangkai kata-kata yah?
Aku bagaikan sedang mendengar pidato upacara di hari senin, baku. Namun aku tertawa tergelitik dan berusaha melihat bagaimana kamu mengontrol ekspresimu dari belakang jok motormu. Ah manis sekali...



Komentar

Postingan Populer