Menua

Saat gue lagi ngetik ini, langit gelap gulita dan jam dinding kamar menunjukkan jarum pendek di angka satu lebih. Gue lagi ngerasa hal yang biasa gue rasakan kalo libur semester.


Ya, libur semester, sekarang gue udah memasuki semester 9. 

Di tahun ini, umur gue 22 tahun.
Ayah 69 tahun.
Mama 48 tahun.
Adek gue 18 tahun.
Pasangan gue 28 tahun.


Baru-baru ini gue sama pasangan gue memutuskan untuk lebih serius dalam masalah hubungan kami berdua. Entah bermula dari mana, yang jelas gue punya keinginan untuk nikah muda dan nampaknya sedang berusaha untuk mewujudkannya. Di satu sisi gue sangat senang karna akhirnya menemukan pria yang cukup mengimbangi gue dan berusah berkomitmen dengan baik layaknya pria dewasa. Tapi dilain sisi, sejujurnya gue bingung sik. Bukan bingung karna dia cocok atau nggak dan lainnya, tapi bingung dan lagi mempertanyakaan ke diri sendiri "Apa gue cukup pantas menjadi istrinya kelak?". Kalo ngerenung sendiri dikamar kadang gue kesel juga sama diri gue, malasnya kagak ketolong. Diumur gue 22 tahun yang bercita-cita mau nikah muda tapi kagak bisa apa-apa kok gue merasa jadi malu sendiri. 
Ada Ratna yang menikah tahun lalu setelah berpacaran putus-nyambung hampir 8 tahunan. Gue nggak nanya detail kehidupa pasca resepsi kayak apa, cuman dia ngasih beberapa wejangan hal-hal sepele yang nantinya bisa jadi masalah besar di awal-awal pernikahan. 


Sedangkan ayah gue udah berumur 69 tahun, udah sekitar 12 tahunan sakit stroke. Dia sekarang udah punya 4 cucu. Hidup dengannya sekarang membuat gue sadar kalo dia ga semuda tampangnya. Tampangnya emang baru keliatan 50an tapi dia sudah kakek-kakek. Sesuai janji Allah yang dituliskan di surah Yasin pada ayat 68 yang berbunyi 
       "Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia
        kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
Ayah gue sekarang jadi pelupa, pendengarannya kurang dan hal-hal lainnya layaknya kakek-kakek pada umumnya. Kami yang tinggal bersamanya belum cukup siap menerima bahwa dia semakin menua. Bagi gue, ayah masih seperti umurnya di 50an akhir. Dia tetap bersahaja seperti dulu saat gue masih kecil tapi perasaan mudah tersinggungnya cukup signifikan berubah. Hal sepele sepeti makan berantakan seperti balita adalah salah satu bahan lelucon dirumah, kami tidak menganggap menjadi serius tapi gue pribadi kalau ayah sekarang sudah menua. 


Kalau ayah menjadi menua dengan caranya, mama juga punya caranya sendiri. Yang paling dominan terlihat dari mama adalah pola makannya. Biasanya mama kalau makan itu sambel pake lauk, tapi sekarang mama udah mengurangi konsumsi makanan pedasnya. Setiap kali mama makan pedas berlebihan pasti perutnya langsung bereaksi. Disitu gue melihat mama menua. 


Adek gue menua? hmmmm
Well, kalo dari tampangnya kayaknya gitu-gitu ajah, masih baby face tapi kesibukannya memperlihatkan kalo dia menua. Jujur, gue cukup gengsi kalo bilang gue kangen sama dia, pasti bakal diketawain tapi melihat kesibukannya setelah masuk kuliah dari tahun lalu buat gue sadar dia juga akan melalui fase yang gue lalui dulu. Gue cukup sedih sik gapunya waktu buat ngobrol atau cerita-cerita sama dia karna dia pergi cukup pagi dan pulang sore, nggak lama dia pulang ya dia tidur. Nggak kebayang jadi ayah yang seharian sendirian kagak ada orang dirumah setiap hari. 




Semua orang berkembang.
Semua orang berproses.
Semua orang menua.
Gue, lo, dia dan mereka sedang menua. 

Komentar

Postingan Populer