Transjakarta Sore Ini
Aku berjalan seperti biasa, tidak begitu lesu namun lumayan sedih dan kecewa.
Sebenarnya aku pun bingung kenapa.
Halte Kramat sentiong di sore hari lumayan lengang saat jam pulang kantor. Aku melihat sekitar, lalu berjalan keujung halte dan melihat mobil lalu lalang, tiba-tiba aku menangis. Cengeng sekali aku ini. Menitihkan air mata berkali-kali sampai terlihat transjakarta menuju Kampung Melayu. Entah mengapa, aku lari sambil mengusap beberapa air mata di pipi untuk naik.
Bis ramai tapi aku masih bisa berdiri nyaman di pintu yang tidak terbuka.
Aku menerawang sambil memegang gagang pintu, rasanya tidak hujan tapi pipi ku lagi-lagi basah. Aku heran apa yang terjadi kepadaku sebenarnya?
Sejujurnya aku tidak punya tujuan, hanya menimbang-nimbang bis koridor berapa yang harus kunaiki. Di halte transit kampung melayu, aku melihat orang-orang berjalan menuju antrian masing-masing bis tujuan, sedangkan aku masih membaca peta. Mau kemana aku?
Terbesit aku ingin menaiki bis ke arah bekasi timur, tapi aku sadar diri itu jauh dari jangkauanku. Kuurungkan niatku, diam bergeming ditengah orang ramai, aku tetap melihat-lihat bis mana yang lumayan kosong.
Bis tujuan grogol lumayan sepi, bergegas aku duduk didekat sang supir. Rasanya harus ada cahaya yang masuk lewat bola mata agar terhibur barang sedikit. Tapi nyatanya banyak hal yang kutangisi sepanjang jalan, kutenggelamkan wajahku ke kedua telapak tangan agar orang sekitar tak melihatnya tapi apadaya sore itu bis penuh ada beberapa penumpang menyadariku menangis berkaca-kaca. Cih cengeng sekali aku.
Aku menikmati jalan, terkadang aku ingin terjebak oleh kemacetan.
Macetnya Jakarta sore ini menyenangkan.
Aku menangis ditengah-tengah supir yang sedang menekan klaskon bisnya.
Aku menangis dikala orang yang berdesak-desakan karna tak dapat tempat duduk.
Aku menangis saat ada mobil depan bis sedang ditilang polisi.
Aku menangis saat penumpang sebelahku sedang asyik berswafoto.
Aku menangis saat kakiku terinjak mba kondektur.
Aku menangis saat hapeku bergetar.
Aku menangis karna aku kecewa pada diriku.
Harmoni.
Lagi-lagi bis sudah di halte transit.
Bis yg kutumpangi tidak berhenti di halte biasanya saat melewati Harmoni.
Bis berbelok menuju Roxy. Aku melihat banyak hal asing yang kulewati. Lalu selepas flyover dan memasuki halte Rumah sakit, aku melihat ada banyak bis berlawanan arah yang sedang mengantri. Langit gelap aku tidak melihat. Tapi yang kutahu, aku menerobos banyak orang agar bisa turun dari bis. Lalu jalan lurus tanpa melihat bis yg kunaiki menuju ke arah mana.
Lagi-lagi duduk didekat supir paling depan, penumpang sebelahku yang duduk didekat jendela sedang menelpon. Tapi aku tidak perduli, aku menangis pelan sambil menunduk dan kembali ke Harmoni. Saat banyak orang turun, aku pindah tempat agar bisa duduk dekat jendela. Dan lagi, aku kembali menangis, kali ini terisak. Kuelap dengan lengan jaket kanan. Aku kedinginan dan aku menangis. Tangisanku membuatku tidak tersadar bahwa aku menuju halte pemberhentian terakhir, Pasar baru.
Halte kecil dan sepi, aku tiba-tiba bingung karna bukan halte transit yang banyak dilalui orang. Duduk diam untuk berfikir dan bis muncul kembali, aku tidak melihat kemana tujuannya, aku naik. Harus tetap bergerak, batinku.
Ternyata aku kembali ke halte Harmoni.
Halte transit Harmoni sore itu ramai, banyak orang yang turun-naik bis.
Aku? memutuskan duduk ditengah-tengah mereka yang sedang bermobilitas.
Aku istirahat, menenangkan pikiran.
Aku duduk diujung kursi panjang dan disebelah peta bis.
Aku hanya duduk, diam dan memperhatikan.
Aku melihat ada wanita cantik, cantik, cantik, cantik, cantik dan cantik.
Aku juga melihat ada pria keren, keren, keren, keren dan keren.
Aku juga melihat anak lucu, anak lucu, anak lucu dan anak lucu.
Aku melihat ada yang terbirit-birit turun dari bis untuk mengejar bis lainnya.
Ada pula yang dengan santai berjalan.
Aku melihat ada yang lari kencang tapi tetap mendegarkan musik lewat earphonenya.
Aku melihat ada yang bingung menetapkan pintu mana yang dituju.
Aku melihat sepatu fila
Aku melihat sepatu airwalk
Aku melihat sendal crocs
Aku melihat sepatu nike
Aku melihat sepatu adidas
Aku melihat sendal swallow
Aku melihat sepatu charles&keith
Aku melihat sepatu vans
Aku melihat hijack sandal
Aku melihat sepatu berhak tinggi
Aku melihat sepatu sketcher
Lalu aku melihat kebawah, converse hitam yang sedang kupakai.
Lalu ada koridor jurusan PGC dan Kalideres yang selalu terjadi penumpukkan penumpang karna frekuensi bisnya jarang datang. Dan bis arah kota selalu ada. Sedangkan bis Harmoni sampai Ancol hanya akan muncul satu kali dalam sejam.
Ditengah-tengah aku sibuk melihat orang turun-naik, aku tak sadar bahwa sudah tiga orang yang duduk disebelahku menunggu orang telah pergi. Aku? masih duduk seperti menunggu sesuatu.
Disebelah kanan ku ada perempuan berjaket abu-abu yang sedang memakai earphone. Matanya merah, ia menangis. Kulihat lagi, ia bahkan mengusap airmatanya menggunakan lengan jaket bagian kiri sedangkan tangan kanannya tetap mengetik layar handphone. Aku tertegun. Tak lama aku ikutan menangis, rasa-rasanya simpati kilat datang kepadaku. Padahal aku sudah tersenyum gara-gara informasi man yang konyol berbicara di speaker.
Satu-dua tetes aku usap di pipi, kueratkan jaket hitamku sambil memeluk tas kuningku dipanggkuan.
Aku berharap bertemu seseorang yang kukenal dari ratusan ribu penumpang yang naik-turun di halte Harmoni saat itu, memecahkan lamunan dan tangisanku lalu mengajakku berbicara.
Tapi aku tetap duduk tenang seperti menunggu sesuatu.
Berkali-kali kulihat jam tangan.
Berkali-kali kulihat peta bis.
Tapi tidak ada niatan untuk beranjak pergi.
Ya aku hanya ingin terlihat sibuk seperti menunggu seseorang.
Bis jurusan Harmoni-Ancil sudah tiga kali kulihat lewat, entah mengapa aku tergerak naik.
Aku. Akhirnya. Berdiri. Dan. Menuju. Bis. Jurusan. Ancol. Yang sedang turun penumpang.
Aku naik saat semua orang turun, ternyata aku salah. Seharusnya bis memutar terlebih dahulu baru bisa dinaiki penumpang. Tapi yasudah, aku duduk dipaling belakang pojok kanan sambil mendengar supir yang sedang memarahi kondketurnya.
Akhirnya aku menaiki bis biasa yang membawaku pulang ke rumah.
Jalanan yang tak asing membuatku sedikit lega.
Aku pulang menuju kerumah.
Di halte yang biasa aku sambangi saat ingin naik-turun bis, aku berpikir apa aku harus berjalan kaki atau naik ojek online untuk sampai kerumah. Hari sudah cukup malam, aku memutuskan untuk memesan ojek tapi nampaknya hapeku kehabisan baterai.
Aku tetap berjalan dan melihat-lihat angkot berhenti menunggu penumpang.
Aku berdiri agak tengah badan jalan sambil melamun dan berpikir, apa yang kutunggu sore ini?
Ternyata sore ini aku menunggu waktu.
Dan aku baru tersadar telah menjadi perempuan yang pulang larut malam terlunta-lunta.
Sebenarnya aku pun bingung kenapa.
Halte Kramat sentiong di sore hari lumayan lengang saat jam pulang kantor. Aku melihat sekitar, lalu berjalan keujung halte dan melihat mobil lalu lalang, tiba-tiba aku menangis. Cengeng sekali aku ini. Menitihkan air mata berkali-kali sampai terlihat transjakarta menuju Kampung Melayu. Entah mengapa, aku lari sambil mengusap beberapa air mata di pipi untuk naik.
Bis ramai tapi aku masih bisa berdiri nyaman di pintu yang tidak terbuka.
Aku menerawang sambil memegang gagang pintu, rasanya tidak hujan tapi pipi ku lagi-lagi basah. Aku heran apa yang terjadi kepadaku sebenarnya?
Sejujurnya aku tidak punya tujuan, hanya menimbang-nimbang bis koridor berapa yang harus kunaiki. Di halte transit kampung melayu, aku melihat orang-orang berjalan menuju antrian masing-masing bis tujuan, sedangkan aku masih membaca peta. Mau kemana aku?
Terbesit aku ingin menaiki bis ke arah bekasi timur, tapi aku sadar diri itu jauh dari jangkauanku. Kuurungkan niatku, diam bergeming ditengah orang ramai, aku tetap melihat-lihat bis mana yang lumayan kosong.
Bis tujuan grogol lumayan sepi, bergegas aku duduk didekat sang supir. Rasanya harus ada cahaya yang masuk lewat bola mata agar terhibur barang sedikit. Tapi nyatanya banyak hal yang kutangisi sepanjang jalan, kutenggelamkan wajahku ke kedua telapak tangan agar orang sekitar tak melihatnya tapi apadaya sore itu bis penuh ada beberapa penumpang menyadariku menangis berkaca-kaca. Cih cengeng sekali aku.
Aku menikmati jalan, terkadang aku ingin terjebak oleh kemacetan.
Macetnya Jakarta sore ini menyenangkan.
Aku menangis ditengah-tengah supir yang sedang menekan klaskon bisnya.
Aku menangis dikala orang yang berdesak-desakan karna tak dapat tempat duduk.
Aku menangis saat ada mobil depan bis sedang ditilang polisi.
Aku menangis saat penumpang sebelahku sedang asyik berswafoto.
Aku menangis saat kakiku terinjak mba kondektur.
Aku menangis saat hapeku bergetar.
Aku menangis karna aku kecewa pada diriku.
Harmoni.
Lagi-lagi bis sudah di halte transit.
Bis yg kutumpangi tidak berhenti di halte biasanya saat melewati Harmoni.
Bis berbelok menuju Roxy. Aku melihat banyak hal asing yang kulewati. Lalu selepas flyover dan memasuki halte Rumah sakit, aku melihat ada banyak bis berlawanan arah yang sedang mengantri. Langit gelap aku tidak melihat. Tapi yang kutahu, aku menerobos banyak orang agar bisa turun dari bis. Lalu jalan lurus tanpa melihat bis yg kunaiki menuju ke arah mana.
Lagi-lagi duduk didekat supir paling depan, penumpang sebelahku yang duduk didekat jendela sedang menelpon. Tapi aku tidak perduli, aku menangis pelan sambil menunduk dan kembali ke Harmoni. Saat banyak orang turun, aku pindah tempat agar bisa duduk dekat jendela. Dan lagi, aku kembali menangis, kali ini terisak. Kuelap dengan lengan jaket kanan. Aku kedinginan dan aku menangis. Tangisanku membuatku tidak tersadar bahwa aku menuju halte pemberhentian terakhir, Pasar baru.
Halte kecil dan sepi, aku tiba-tiba bingung karna bukan halte transit yang banyak dilalui orang. Duduk diam untuk berfikir dan bis muncul kembali, aku tidak melihat kemana tujuannya, aku naik. Harus tetap bergerak, batinku.
Ternyata aku kembali ke halte Harmoni.
Halte transit Harmoni sore itu ramai, banyak orang yang turun-naik bis.
Aku? memutuskan duduk ditengah-tengah mereka yang sedang bermobilitas.
Aku istirahat, menenangkan pikiran.
Aku duduk diujung kursi panjang dan disebelah peta bis.
Aku hanya duduk, diam dan memperhatikan.
Aku melihat ada wanita cantik, cantik, cantik, cantik, cantik dan cantik.
Aku juga melihat ada pria keren, keren, keren, keren dan keren.
Aku juga melihat anak lucu, anak lucu, anak lucu dan anak lucu.
Aku melihat ada yang terbirit-birit turun dari bis untuk mengejar bis lainnya.
Ada pula yang dengan santai berjalan.
Aku melihat ada yang lari kencang tapi tetap mendegarkan musik lewat earphonenya.
Aku melihat ada yang bingung menetapkan pintu mana yang dituju.
Aku melihat sepatu fila
Aku melihat sepatu airwalk
Aku melihat sendal crocs
Aku melihat sepatu nike
Aku melihat sepatu adidas
Aku melihat sendal swallow
Aku melihat sepatu charles&keith
Aku melihat sepatu vans
Aku melihat hijack sandal
Aku melihat sepatu berhak tinggi
Aku melihat sepatu sketcher
Lalu aku melihat kebawah, converse hitam yang sedang kupakai.
Lalu ada koridor jurusan PGC dan Kalideres yang selalu terjadi penumpukkan penumpang karna frekuensi bisnya jarang datang. Dan bis arah kota selalu ada. Sedangkan bis Harmoni sampai Ancol hanya akan muncul satu kali dalam sejam.
Ditengah-tengah aku sibuk melihat orang turun-naik, aku tak sadar bahwa sudah tiga orang yang duduk disebelahku menunggu orang telah pergi. Aku? masih duduk seperti menunggu sesuatu.
Disebelah kanan ku ada perempuan berjaket abu-abu yang sedang memakai earphone. Matanya merah, ia menangis. Kulihat lagi, ia bahkan mengusap airmatanya menggunakan lengan jaket bagian kiri sedangkan tangan kanannya tetap mengetik layar handphone. Aku tertegun. Tak lama aku ikutan menangis, rasa-rasanya simpati kilat datang kepadaku. Padahal aku sudah tersenyum gara-gara informasi man yang konyol berbicara di speaker.
Satu-dua tetes aku usap di pipi, kueratkan jaket hitamku sambil memeluk tas kuningku dipanggkuan.
Aku berharap bertemu seseorang yang kukenal dari ratusan ribu penumpang yang naik-turun di halte Harmoni saat itu, memecahkan lamunan dan tangisanku lalu mengajakku berbicara.
Tapi aku tetap duduk tenang seperti menunggu sesuatu.
Berkali-kali kulihat jam tangan.
Berkali-kali kulihat peta bis.
Tapi tidak ada niatan untuk beranjak pergi.
Ya aku hanya ingin terlihat sibuk seperti menunggu seseorang.
Bis jurusan Harmoni-Ancil sudah tiga kali kulihat lewat, entah mengapa aku tergerak naik.
Aku. Akhirnya. Berdiri. Dan. Menuju. Bis. Jurusan. Ancol. Yang sedang turun penumpang.
Aku naik saat semua orang turun, ternyata aku salah. Seharusnya bis memutar terlebih dahulu baru bisa dinaiki penumpang. Tapi yasudah, aku duduk dipaling belakang pojok kanan sambil mendengar supir yang sedang memarahi kondketurnya.
Akhirnya aku menaiki bis biasa yang membawaku pulang ke rumah.
Jalanan yang tak asing membuatku sedikit lega.
Aku pulang menuju kerumah.
Di halte yang biasa aku sambangi saat ingin naik-turun bis, aku berpikir apa aku harus berjalan kaki atau naik ojek online untuk sampai kerumah. Hari sudah cukup malam, aku memutuskan untuk memesan ojek tapi nampaknya hapeku kehabisan baterai.
Aku tetap berjalan dan melihat-lihat angkot berhenti menunggu penumpang.
Aku berdiri agak tengah badan jalan sambil melamun dan berpikir, apa yang kutunggu sore ini?
Ternyata sore ini aku menunggu waktu.
Dan aku baru tersadar telah menjadi perempuan yang pulang larut malam terlunta-lunta.

Komentar
Posting Komentar