Si Waktu yang Fana
Sepanjang hidup yang selalu naik turun tensinya, aku selalu menyalahkan waktu.
Dikala aku tidak diterima di suatu tempat tujuan, saat aku dilupakan oleh seseorang ataupun saat aku patah se-patah-patahnya.
Aku, selalu menyalahkan waktu.
Waktu yang fana itu.
Aku paham diatas uang yang terpenting yakni waktu, tapi apa waktu akan abadi?
Apa nantinya waktu tidak memudarkan ingatan?
Apa nantinya waktu bisa berbaik hati, berhenti sejenak agar bisa dinikmati?
Apa nantinya waktu tidak kehilangan esensi?
Apa nantinya waktu dapat di duplikasi?
Setiap direnungkan, hasilnya akan gusar.
Ditampar keadaan, dibangunkan tekanan dan dijejali kenyataan.
Hidup melawan waktu seperti hidup mencari keberadaan Tuhan.
Terasa ditengkuk leher tapi tak bisa digenggam.
Alhasil tersadar yang bodoh kita, kenapa melawan waktu.
Sesuatu yang abstrak dan fana.
Berkali-kali disepanjang hidupku, kulontarkan sumpah serapah.
Memaki waktu karena dateng bukan di situasi yang tepat.
Menangisi yang tak bisa dijelaskan, terkoyak oleh kesunyian.

Komentar
Posting Komentar