Sendu yang terik

Ini bukan senja seperti biasanya. 
Ini bukan pula fajar yg biasa dipuja.
Ini hanya siang yg terik seperti biasanya. Aku menyukainya, ya benar aku menyukainya. 
Kau tahu kenapa aku menyukai teriknya siang? Kamu.
Tahu mengapa kamu menjadi alasannya? Karna aku bisa melihat wajahmu yg sendu di tengah hari, setiap hari. Aku tak keberatan kalau harus berkeringat setiap kali melihatmu, sudah kusiapkan tissu dikantong celanaku yg bolong ini.
Kamu, keberatan tidak kalau aku selalu memandang wajahmu?

Tapi tunggu, mengapa wajahmu lebih sendu dari biasanya?
Aku...aku...ingin sekali menanyaimu mengapa tak ada senyum sendu siang ini ,tapi apalah aku ini hanya penikmat wajah sendu mu.

Ah lagipula nampaknya bukan aku satu-satunya manusia yg menikmati wajah sendu mu itu. Aku tahu banyak diluar sana yg nasib nya sama denganku, namun mereka memberanikan diri untuk menyapamu. 
Aku memang penakut, tak berani maju walau selangkah mendekati mu. Aku hanya berani menyanyi di dekatmu, aku tau kau tak akan mendengarnya jadi tak apa jika suara ku tak layak didengar, kamu tak akan mendengarnya.
Suaraku sampai tidak ke hatimu?

Jaman padahal sudah tak se kuno dulu. Aku bahkan bisa melihat senyum mu di media sosial. Aku bahkan tau apa yg sedang kau perbuat tapi aku takut untuk mengatakannya bahwa aku selalu memperhatikan mu. 
Aku sama sekali tidak keberatan saat kamu memalingkan wajahmu didepanku, memang itu kemauanku untuk tak diluat oleh mu. 

Sekarang aku sadar, aku tak bisa selalu seperti ini. Aku menghilang. Tempat duduk yg biasa aku singgahi sekarang hanya ku lewati. Parkiran hanya menjadi tempat dimana kendaraan di prkirkan, bukan untuk tempat mencuri-curi pandangan. Tempat makan? Ah sudahlah aku tak ada nafsu makan, minum pun tak sudi. Kamar mandi hanya sekedar tempat untuk mencuci muka, bukan lagi tempat pelarian saat air mata akan berurai. Terima kasih, aku sudah tidak lagi singgah ke tempat-tempat dimana biasanya aku bisa melihatmu. 





Komentar