Sajak Idul Adha
Takbir bergema di mana-mana.
Aku hanya menciut di dalam selimut berwarna biru ke sukaan ku. Memikirkan kamu yg jauh dan entah dimana. Aku lupa kapan terakhir kali aku mengingatmu seperti ini. Mengingat nama mu yg dulu begitu berarti bagiku. Aku hanya ingat nama mu saat teman-teman ku menyindir ku. Aku lupa akan wajah manis mu. Tapi yg ku yakini, mungkin rambut mu sudah panjang seperti yg dulu kau selalu katakan padaku.
Aku sudah lupa kapan terakhir kali kita membagi tawa di telpon. Aku lupa suara mu. Aku bahkan sudah lupa suara mu saat menyanyikan lagu ke sukaan ku setiap malam, yah walau suara mu tak enak di dengar tapi aku dengan senang hati mendengarnya, bahagia mendengar kau bersemangat.
Mungkin, aku rindu melihat wajah mu di layar handphone ku. Aku bahkan memberanikan diri duduk di atas genteng untuk mendapat sinyal agar bisa melihat wajah manismu itu. Aaaah takbiran ini membuatku mengingat mu.
Yah aku harus menyadari satu hal, aku tau aku tak lagi ada di pikiran mu tapi tidak sebaliknya bagiku. Aku selalu menarik tujuhbelas urat syaraf di wajah saat tau kau sedang online tapi aku tau pasti kamu tak lagi perduli padaku.
Aku lelah membaca dagelan tentang idul adha jika orang yg tak punya pasangan akan mengurbankan hati nya esok. Aku muak, sungguh. Mungkin bagi mereka itu hanyalah candaan namun bagiku yg saat ini sedang memikirkan mu itu menyiksa. Aku benci, tapi aku tak tau apa yg ku benci. Mungkin, kamu.
Bagiku, sebuah kemajuan besar saat melihat foto mu itu tidak berurai air mata, tidak memalingkan wajah saat melihat video mu yg bagiku akan selalu terlihat lucu. Menertawakan lagu ke sukaan mu sekarang adalah hal baik karna dulu aku tak ingin mendengarnya sama sekali.
Satu hal yg aku pikirkan menyiksa ku dan terus menghantuiku, mengutuk diri sendiri. Harusnya aku tau, dulu, kita sepasang kekasih. Kita berdua. Berarti saat kita berpisah kita berdua merasakan sakitnya, tak ada yg hanya sepihak yg merasakannya, aku percaya akan hal itu.
Aku selalu mengulang perkataan temanku bahwa sakit hati dan kesedihan bukanlah perlombaan yg harus ditunjukkan dan siapa pemenangnya, tak ada guna saat kau tau kau menang, hanya tangisan yg kau dapat pada akhirnya. Aku tersenyum saat teman ku mengatakan aku sudah lebih baik sekarang.
Yah tak ada salahnya bagiku memikirkan mu sesekali. Kurasa baik mengenang yg kita rindu. Iya, aku rindu padamu. Sudahlah aku hanya mengatakan apa yg kurasa pada Idul Adha kali ini. Aku bukan mengorbankan perasaan, aku mengorbankan waktu ku untuk mengenang mu sedikit. Mengorbankan imajinasi liarku tentang kita. Mengorbankan acara televisi kesukaan ku, hanya untukmu.

Komentar
Posting Komentar