Donor Darah Ke Tujuh

What an amazing moment gua diawal tahun 2017 ini. Seperti rutinitas biasaya gue akan mendonorkan darah gua di hari-hari yang gue anggap membahagiakan. Sebenernya hari bahagia nya adalah tanggal 5 Januari tapi karna berhalangan jadinya gue baru sempet ke PMI sehari setelahnya.
Gue antara bingung memilih makan dulu atau donor darah dulu. Ini di karnakan makanan yang akan gue santap adalah tongseng kambing idaman. Menurut sepengetahun gue, kambing itu bikin tensi darah tinggi atau kolestrol naik karna yah daging kambing gak begitu baik untuk kesehatan. Yang gua takutkan adalah setelah makan tongseng kambing, gue ga dibolehin untuk donor darah karna tensi nya tinggi, akan tetapi di sisi lainnya gue belom makan dari pagi dan sangat amat lapar di tengah siang bolong suasana kampus yang gersang.
Dengan perdebatan yang agak sengit dengan Tio, maka gue memutuskan untuk makan dulu sebelum pergi donor darah. Kita berdua berfikir bahwa saat akan menyumbangkan darah kita, kita harus dalam kondisi yang cukup fit. Meluncurlah kita ke tongseng idaman gue yang udah tiga hari terakhir selalu menjadi topik perbincangan kita di telpon.
Untuk ke berepa kalinya pun, tongseng kambing andalan gue akan selelu enak dan selalu ngangenin. Satu mangkok itu gue habiskan beserta kuah nya. Lalu Tio kembali mengingatkan bahwa kalo abis makan daging kambing gak baik buat donor darah, dengan alasan kesehatan. Ya gue tipikal manusia keras kepala, gue tetap meminta dia nganterin gue buat donor darah. Ya mau gak mau dia anter gue ke PMI dekat kampus.
Sesampai nya disana, seperti biasa kalo dia selalu mem-foto bahkan mem-video gue. Saat gue lagi isi formulir, dia langsung senyum ke arah gue dan sedikit agak menggoda dan yang lebih menyebalkan saat dia meledek foto KTP gue yang gue anggap sangat amat jelek.
Dan karna sepi, nama gue langsung di panggil untuk pemeriksaan hemoglobin dan berat badan. Well, lucu sih bagi gue karna dia sangatlah curious terhadap apa yang gue lakukan. Dia sampai pindah tempat duduk untuk ngeliatin gue.
       “Cie kepo”
       “Ah tidak..” elak Tio.
       “Liat deh itu, ada nama aku di layar LCD. Tadi kan abis dipanggil”
       “Wih iya e”
       “Foto dong kan keren namaku ada di layar” gue agak berteriak karna curious.
Dan tidak lama dia melakukan apa yang gue bilang, mem-foto layar LCD yg bertuliskan nama panjang gue.

Gue bisa liat dari ekspresi nya yang sangat curious saat gue ajak ke PMI.
        “Saya boleh masuk tidak untuk melihat?” Tanya Tio.
        “Ah enggak boleh tau”
        “Amasa tidak boleh?”
Lalu tiba-tiba ada dua orang perempuan masuk ke ruangan dokter yang memeriksa tensi sebelum darah di ambil.
       “E itu boleh masuk berdua. Kau bohongi saya kasian” teriak Tio.
       “Ih enggak orang waktu itu aku ditemeni Vivy, dia gak masuk ke ruangan donor”
       “Ah tidak! Saya mau temani kau”

Dan pada akhirnya saat nama gue dipanggil, Tio juga ikutan masuk ke ruangan dokter.
Pas dokter jaga mau meriksa tensi gue, dia liat kartu donor gue dengan bertuliskan golongan darah AB +. Dia teriak ke salah satu perempuan yang masuk tadi sebelum gue dan membeitahukan kalu golongan gue adalah AB + yang ia cari. Dan saat pemeriksaan tensi usai, komentar si dokter jaga ialah “Tensi kamu normal yah 110/80”.
Seketika gue ngelirik Tio yang sedang memperhatikan gue.
Dan dia sangat amat tertarik, dia ngeliat-ngeliat ruangan pendonor yang bernuansa putih yang gue rasa itu asing buat dia. Gue ketawa dan langsung teriakin dia “NOOORAAAK!”

Tiba-tiba perempuan yang tadi diteriakin sama dokter jaga itu nyamperin gue.
       “Mbak, golongan darahnya AB yah?”
       “Iya” aku gue polos.
       “Mbak, kaka sepupu saya butuh darah AB + sekitar empat kantong. Dari tadi malem saya udah cari kemana-mana tapi AB + kosong semua. Darah Mbak boleh saya minta buat kaka sepupu saya?”
       “Oh iya dengan senang hati! Boleh Mbak!” gue sangat semangat menjawabnya.
Abis itu kertas antrian gue dia bawa ke customer service depan buat di ralat dan di tulis bahwa darah gue buat kaka sepupunya. Sedangkan gue duduk manis sama Tio di dalam ruangan donor.
Gue tau banget kalo Tio kayak bangga gitu liat gue mau donor, terpancar dari wajahnya dan mata nya.
       “Aku tau VO kamu, wah Lia keren betul yah mau donor sedangkan saya tidak” rayu gue.
Dia cuman senyum-senyum malu yang biasa Ia keluarkan kalo udah kehabisan kata-kata. Tapi pada akhirnya dia ngaku dan mengeluarkan kalimat sama apa yang gue bilang ke dia barusan.

Lagi bercanda-canda, nama gue akhirnya di panggil sama suster nya. Katanya gue boleh duduk dimana ajah. Gue memilih tempat tidur yang dekat dan memilih kursi yang tangan kiri yang akan diambil darahnya.

Dengan sigap, Tio mendatangi gue dan mulai mengeluarkan handphone nya. Karna suster yang mau ambil darah gue ngeliat Tio, trus dia senyum dan bilang “Boleh saya tonton”. Gue cuma ketawa dan membalas kalimat nya “Kalo nonton yah tv lah”.
Susternya mulai bertanya kenapa Tio tidak donor.
       “Dia penakut” teriak gue.
       “Ah tidak!” elak Tio sambil terus videoin gue.
       “Iya, dasar penakut”
       “Tidak, saya tidak siap saja untuk donor sekarang”
Setelah itu dia ngeri sendiri ngeliat jarum yang menusuk lengan kiri gue mulai mengalirkan darah ke kantong.
       “E itu warna darahnya hitam” ucap Tio.
       “Bukan, merah marun tua” jelas Suster.
       “O bukan coklat tua itu ya?” tanya Tio lagi.
       “Kan tadi udah dibilang kalo merah tua” jawab gue.

Akhirnya dia duduk dibangku tadi, awalnya gue liat dia nonton tv dan gue sambil ngobrol sama suster, perempuan yang minta kantong darah gue itu menghampiri gue. Dia minta ijin untuk memfoto gue dan akan memposting nya di Instagram. Dia minta nama gue agar bisa di tag nantinya. Setelah itu dia cerita tentang susah payah nya mencari darah AB + untuk kaka sepupu nya yang sakit kanker payudara yang akan di operasi.
Gue mendengar ceritanya terharu dan terenyuh, sambil membayangkan sesosok perempuan yang berkepala pelontos karna khemoteraphi yang Ia jalani sedang terbujur lemah di kasur rumah sakit dan sedang sangat kesakitan, menunggu beberapa kantong darah agar bisa melakukan operasi pengangkatan payudara.

Gua samperin Tio dan ternyata dia tertidur di bangku. Pas gue colek, dia buka mata nya dan kedua bola matanya merah trus gue ledekin.
       “Astaga tidur”
       “Ah tidak” elak dia.
       “Iya, gak tidur cuman menutup mata sekejap kan?”

Saat di cafeteria PMI, gue bilang sama Tio bahwa betapa bahagia nya gue setelah donor darah. Donor darah kali ini sangat amat berkesan karna baru kali ini gue tau darah yang gue sumbangkan sebanyak 250 cc dipakai dan digunakan oleh siapa. Karna, biasanya seusai gue donor itu gue gatau buat apa dan buat siapa darah gue, tapi ini gue tau buat apa dan buat siapa darah gue. Semoga 250 cc darah AB + yang gue sumbangkan, digunakan dengan baik dan menyelamatkan Mbak Lita Agustina. Baru kali ini gue berasa sangat membantu orang dengan aksi nyata.

Teman-teman yang baca post ini.
Kalau darah kalian AB +, gue hanya ingin mengingatkan bahwa golongan darah kalian sangatlah langka. Setiap kali gue dateng ke PMI dan bertanya golongan darah AB + selalu menjadi stock kantong darah terdikit diantara yang lain. Jadi, disini gue mau ajak kalian untuk pergi PMI dan meluangkan waktu kalian 30 menit untuk menyumbangkan darah kalian untuk orang-orang yang membutuhkan. Sejujurnya gue sangat takut kalo liat darah, tapi entah mengapa gue melakukan langkah besar untuk memberikan darah gue kepada orang dan pada akhirnya gue bahagia saat melakukannya dan menjadi candu untuk terus mendonorkan darah gue. Coba ajah sekali dateng ke PMI, melihat kesiapan mental kalian untuk donor darah, kalo kesan petama kalian gak baik ya enggak apa-apa at least kalian pernah berusaha menolong orang dengan menyumbangkan darah milik kalian.



Anw, alasan gue mendonorkan darah gue ialah gue baru ajah merayakan dua bulan gue dengan Tio, pacar gue. Gue bahagia, nah ingin memberikan sedikit kebahagian gue kepada orang lain dengan cara mendonorkan darah.

Komentar

Postingan Populer