Menunggu Peron

Sore ini jingga, cerah, dan masih sama seperti sebelumnya. Aku menerawang ke setiap ekspresi orang yang lalu lalang. Wajah mereka sama, muram.
Ketidak mampuanku melihat matahari kurasa wajar, karna setiap mahkluk di muka bumi tidak sanggup melakukannya.

Aku teringat dikala malam yang berbisik dari kejauhan. Kamu memaki langit, mengutuknya. Kala itu kamu gagal menyanyikan lagu kesukaanku, counting stars oleh one republic. Kau berharap langit sedang bermandikan bintang saat kau sedang menyanyikan laguku.
Kau berkata dengan sangat gusar kalau kau sangat mencintaiku, kupikir itu hanya candaan biasa, akan tetapi saat mendekat dan berusaha menggengam tanganku, aku baru tersadar jika kau tak se bercanda itu, matamu menceritakannya padaku.
Malu rasanya menganggap angin lalu ucapanmu. Aku hanya tersenyum, tersipu malu.

Lucu setelah dipikir berulang kali, mengapa kau. Kurasa aneh tapi mengapa menggangap aneh orang yang sedang jatuh cinta. Kupikir benar jika jatuh cinta tak perlu alasan karna paras yang indah memikat mata, bualanku mungkin ditertawai sebagian orang tapi ingat, ada sebagian orang yang merasakan apa yang kurasa.

Deretan sepatu yang berada di hadapanku, tak ada satupun yang menghampiriku. Kupikir lucu saat kau sedang memikirkan seseorang, lalu ia datang dan memberikan senyuman kepadamu. 


Peron terisi oleh sepuluh gerbong kereta. Semua manusia berusaha masuk kedalamnya, aku hanya tertegun, aku membayangkan kau yang menarik tanganku dan berusaha menerobos para penumpang yang juga ingin menaiki kereta. Namun ternyata hanya tabrakan orang lalu lalang yang kudapat, tak apa.

Kopiku mendingin, roti coklatku mengeras, kamu belum kunjung datang. 
Kurasa tembakau tak mampu menahan rasa rinduku padamu. 
Aku menoleh setiap derap kaki menghampiriku, berharap kamu datang dengan senyuman. 
Apa daya, kamu tak kunjung datang.

Saat ku melihat kuku tanganku, aku selalu teringat atas ucapanku. 
Senja yang cerah dengan langit berwarna biru saat kita sedang bercengkrama, kau hening lalu melontorakan sebuah pertanyaan yang tidak kuduga. Kau bertanya rasa sayangku diibaratkan seperti apa. Aku hanya memandang langit. Berpikir. Melihat tanganku yang kotor lalu menjawab dengan pelan, kuku.
Kecil, namun selalu tumbuh.
Dengan candaan kecil yang terlontar, aku balik bertanya.
Kupikir ini hanya perbincangan biasa, lalu kau menjawab dengan wajah yang cukup keras dan menarik nafas, semesta.
Aku merasa bersalah, menggangap ini hanya lelucuon. Pada nyatanya kau berpikir sebaliknya.


Peron kali ini diisi kereta bergerbong duabelas.
Sama sesaknya seperi kereta sebelumnya. Aku bergeming melihat mu datang mengampiri dengan senyum yang selalu membuat ku merindu.

Komentar

Postingan Populer